Minggu, 04 Desember 2011

critikal book “Pengelolaan Terumbu Karang Yang Telah Memutih Dan Rusak Kritis”

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya kita masih diberikanNya kenikmatan, baik kenikmatan jasmani dan kenikmatan rohani. Dan salawat beriring salam keharibaan junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, sebagai utusan Allah untuk menyempurnakan Akhlak di muka bumi ini. Dan atas dasar itu jualah penulis dapat menyelesaikan critical book ini dengan baik. Penulis sadar bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, atas dasar itu penulis mohon saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pengajuan pendapat dan kesempurnaan “Pengelolaan Terumbu Karang Yang Telah Memutih Dan Rusak Kritis” Penulis Indra Rachmat S NIM : 3103331027

 BAB 1 PENDAHULUAN Buku ini merupakan panduan bagi para pengelola, pembuat keputusan dan semua pihak yang hidup berdekatan dengan keberadaan terumbu karang yang baik dan yang peduli akan menurunnya kondisi terumbu karang karena pemutihan dan serangkaian dampak lain. Terumbu karang adalah salah satu ekosistem laut yang paling penting sebagai sumber makanan, habitat berbagai jenis biota komersial, menyokong industri pariwisata, menyediakan pasir untuk pantai, dan sebagai penghalang terjangan ombak dan erosi pantai. Ironisnya, pemutihan yang terburuk terjadi di negara negara yang mempunyai kapasitas dan sumber-sumber yang cukup rendah untuk menanganinya, dan dengan kebutuhan terumbu karang berkondisi baik yang terbesar sebagai kontribusi pembangunan yang berkelanjutan. Para ahli khawatir bahwa penurunan produktivitas terumbu karang sekecil apapun akibat pemutihan dapat memiliki konsekuensi sosial dan ekonomi yang serius bagi masyarakat setempat yang bergantung pada sumber daya terumbu karang, mengingat justru orang-orang inilah yang seringkali hidup dibawah garis kemiskinan. Untungnya, suatu perkembangan dari penelitian terakhir menghasilkan informasi baru mengenai dampak pemutihan, baik secara ekologi dan sosial. Penelitian lanjutan masih sangat dibutuhkan agar saran dimasa mendatang dapat dibuat lebih akurat. Sementara itu, dengan menggunakan informasi yang ada sekarang, tindakan dengan strategi umum dapat dilaksanakan guna memberikan terumbu karang kesempatan yang paling baik untuk dapat pulih dan sehat terus menerus. Sebelum mulai membahas solusi yang kreatif, pertamatama kita harus meninjau ulang permasalahannya. Peristiwa pemutihan terumbu karang yang tersebar luas di Samudera Hindia barat tahun 1998 khususnya amat merusak dan meningkatkan tingkat kematian karang. Menyadari pentingnya peristiwa ini serta meningkatnya perhatian dunia akan fenomena pemutihan ini, negara-negara yang turut berpartisipasi dalam Konvensi Keanekaragaman Biologi (CBD) mendorong tercetusnya Konsultasi Para Ahli mengenai pemutihan karang (CBD, 1999): • Pemutihan dan kematian karang secara masal tahun 1998 tampaknya menjadi peristiwa paling serius dan ekstensif yang pernah terdokumentasi. • Sebaran geografis, peningkatan frekuensi dan kerusakan pemutihan secara masal adalah akibat meningkatnya suhu rata-rata permukaan air laut secara pasti serta terdapat cukup bukti bahwa perubahan iklim adalah penyebab utamanya. • Kenaikan suhu laut, akibat pemutihan terumbu karang dan kematian menunjukkan ancaman yang serius bagi terumbu karang dan populasi manusia yang bergantung padanya, khususnya mereka yang berada di negara-negara kepulauan yang sedang berkembang. Tentunya tidak ada pengobatan yang cepat untuk pemutihan karang. Akan tetapi, para pengelola dan pembuat keputusan berada dalam posisi menyelamatkan sumber daya yang tersisa dan menstimulasi pemulihan. Dimana saja terjadi pemutihan, pengelolaan untuk mengurangi dan menghilangkan segala bentuk dampak langsung dari manusia yang menyebabkan kerusakan tambahan adalah amat penting untuk meningkatkan kondisi pemulihan karang yang optimal. Hal ini termasuk mengurangi tekanan akibat perikanan yang berlebihan, pariwisata, polusi dari pemanfaatan dan pengembangan sumber tanah. Perlindungan terhadap karang yang masih hidup sangat vital karena hal ini diperlukan bagi masa depan pemulihan karang secara lokal dan dimana saja. Tindakan di semua tingkat- lokal, nasional, regional dan dunia- sangatlah penting. Para pengelola terumbu karang khususnya, harus menyadari peranan mereka ditingkat dunia. Contohnya, Indonesia bagian tengah yang bertahan dari pemutihan, kini berperan penting dalam pemulihan dari terumbu karang yang telah rusak diseluruh Samudera Hindia dengan menyediakan larva untuk kolonisasi. Oleh karena itu, tindakan di tingkat lokal di Indonesia dapat mempengaruhi negara-negara serta masyarakat lokal yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer. Kini banyak prakarsa dunia dan regional yang mengarahkan perhatian mereka pada pemutihan dan krisis yang dihadapi terumbu karang. Salah satunya adalah Prakarsa Terumbu Karang Internasional (ICRI) dan Jaringan Monitoring Terumbu Karang Dunia (GCRMN). Program Degradasi Terumbu Karang di Samudera Hindia (CORDIO) merupakan satu contoh regional, dan hasil kerjanya banyak dipakai dalam pengembangan dokumen ini.

BAB II PEMUTIHAN KARANG Apakah Pemutihan Karang Itu? Sebagian besar karang adalah binatang-binatang kecil (disebut POLIP) yang hidup berkoloni dan membentuk terumbu. Mereka mendapatkan makanannya melalui dua cara: pertama, dengan menggunakan tentakel mereka untuk menangkap plankton dan kedua, melalui alga kecil (disebut zooxanthellae) yang hidup di jaringan karang. Beberapa jenis zooxanthellae dapat hidup di satu jenis karang (Rowan dan Knowlton, 1995; Rowan et al., 1997). Biasanya mereka ditemukan dalam jumlahbesar dalam setiap polip, hidup bersimbiosis, memberikan : warna pada polip, energi dari fotosintesa dan 90% kebutuhan karbon polip (Sebens, 1997). Zooxanthellae menerima nutrisi-nutrisi penting dari karang dan memberikan sebanyak 95% dari hasil fotosintesisnya (energi dan nutrisi) kepada karang (Muscatine, 1990) Dalam karang pembentuk terumbu, kombinasi fotosintesis dari alga dan proses fisiologis lainnya dalam karang membentuk kerangka batu kapur (kalsium karbonat). Pembentukan kerangka yang lambat ini, diawali dengan pembentukan koloni dan kemudian membentuk kerangka kerja tiga dimensi yang rumit menjadikan terumbu karang sebagai tempat berlabuh bagi banyak jenis biota, yang banyak diantaranya penting untuk kehidupan masyarakat dan komunitas pesisir. “Pemutihan” karang (yaitu menjadi pudar atau berwarna putih salju) terjadi akibat berbagai macam tekanan, baik secara alami maupun karena manusia, yang menyebabkan degenerasi atau hilangnya zooxanthellae pewarna dari jaringan karang. Dalam keadaan normal, jumlah zooxanthellae berubah sesuai dengan musim sebagaimana penyesuaian karang terhadap lingkungannya (Brown et al., 1999; Fitt et al., 2000). Pemutihan dapat menjadi sesuatu hal yang biasa dibeberapa daerah. Selama peristiwa pemutihan, karang kehilangan 60–90% dari jumlah zooxanthellae-nya dan zooxanthellae yang masih tersisa dapat kehilangan 50– 80% dari pigmen fotosintesinya. (Glynn, 1996). Ketika penyebab masalah itu disingkirkan, karang yang terinfeksi dapat pulih kembali, tetapi jumlah zooxanthellae kembali normal, tetapi hal ini tergantung dari durasi dan tingkat gangguan lingkungan (Hoegh-Guldberg,1999). Gangguan yang berkepanjangan dapat membuat kematian sebagian atau keseluruhan tidak hanya kepada individu koloni tetapi juga terumbu karang secara luas. Belum banyak yang dimengerti dari mekanisme pemutihan karang. Akan tetapi, diperkirakan dalam kasus tekanan termal, kenaikan suhu menganggu kemampuan zooxanthellae untuk berfotosintesis, dan dapat memicu mproduksi kimiawi berbahaya yang merusak sel-sel mereka (Jones et al., 1998; Hoegh-Guldberg dan Jones, 1999). Pemutihan dapat pula terjadi pada organisme-organisme bukan pembentuk terumbu karang seperti karang lunak (soft coral), anemon dan beberapa jenis kima raksasa tertentu (Tridacna spp.), yang juga mempunyai alga simbiosis dalam jaringannya. Sama seperti karang, organisme-organisme ini dapat juga mati apabila kondisi-kondisi yang mengarah kepada pemutihan cukup parah. Akibat dari pemutihan sangat bervariasi. Pola pemutihan yang berbeda-beda dapat ditemukan dibeberapa koloni dari jenis yang sama, antara jenis yang berlainan di terumbu yang sama dan antara terumbu disuatu daerah (Brown, 2000; Huppert dan Stone, 1998; Spencer et al., 2000). Penyebabnya masih belum dapat diketahui, kemungkinan berbagai jenis tekanan alami atau gabungan dari beberapa tekanan menjadi pemicunya bersama dengan variasi-variasi dari jenis zooxanthellae dan kerapatan dalam koloni. Jenis Zooxanthellae yang berbeda dapat menghadapi tingkat tekanan yang berbeda pula dan beberapa zooxanthellae telah menunjukkan dapat beradaptasi kepada beberapa jenis jenis karang tertentu; hal ini dapat menjelaskan variasi pemutihan pada satu jenis karang (Rowan et al., 1997). Koloni karang yang telah memutih, apakah mereka mati seluruhnya atau hanya sebagian, lebih rapuh terhadap perkembangan alga yang berlebihan, penyakit danorganisme karang yang menjangkiti kerangka dan melemahkan struktur terumbu karang. Hasilnya adalah bilamana kematian tinggi, terumbu yang memutih berubah secara cepat dari warna putih salju menjadi abu-abu kecoklatan pupus seiring dengan perkembangan alga menutupi mereka. Bila dampak pemutihan yang terjadi sangat parah, alga yang berkembang secara ekstensif dapat mencegah rekolonisasi karang-karang baru, yang secara dramatis merubah pola-pola. keanekaragaman jenis karang dan menyebabkan restrukturisasi komunitas tersebut. Apa Penyebab Terjadinya Pemutihan Karang? Tekanan penyebab pemutihan antara lain tingginya suhu air laut yang tidak normal, tingginya tingkat sinar ultraviolet, kurangnya cahaya, tingginya tingkat kekeruhan dan sedimentasi air, penyakit, kadar garam yang tidak normal dan polusi. Mayoritas pemutihan karang secara besar besaran ndalam kurun waktu dua dekade terakhir ini berhubungann dengan peningkatan suhu permukaan laut (SPL) dannkhususnya pada HotSpots (Hoegh-Guldberg, 1999). HotSpot Adalah Daerah Dimana SPL Naik Hingga Melebihi Maksimal Perkiraan Tahunan (Suhu Tertinggi Pertahun Dari Rata-Rata Selama 10 Tahun) Dilokasi Tersebut . Apabila Hotspot Dari 1°C Diatas Maksimal Tahunan Bertahan Selama 10 Minggu Atau Lebih, Pemutihan Pasti Terjadi. Dampak Gabungan Dari Tingginya SPL Dan Tingginya Tingkat Sinar Matahari (Pada Gelombang Panjang Ultraviolet) Dapat Mempercepat Proses Pemutihan Dengan Mengalahkan Mekanisme Alami Karang Untuk Melindungi Dirinya Sendiri Dari Sinar Matahari Yang Berlebihan. Peristiwa Pemutihan Dalam Skala Besar Di Tahun 1980-An Dan Awal Tahun 1990-An Tidak Dapat Dijelaskan Keseluruhannya Sebagai Akibat Dari Faktor Tekanan Lokal Seperti Contohnya Sirkulasi Air Yang Buruk Dan Segera Dikaitkan Dengan Peristiwa El Niño. Tahun 1983n Adalah Tahun Tercatatnya El Niño Terkuat Hingga Saat Itu, Diikuti Oleh Peristiwa Serupa Tahun 1987 Dan Yang Kuat Lagi Tahun 1992. Pemutihan Karang Telah Muncul Pula Di Tahun Yang Bukan Merupakan Tahun-Tahun Elniño, Dan Telah Dikenali Sebagai Faktor LainmSelain Naiknya SPL Yang Dapat Terkait, Seperti Angin, Awan Yang Menutup Dan Hujan Peristiwa Pemutihan Dalam Skala Besar Dipengaruhi Oleh Naik-Turunnya SPL, Dimana Pemutihan Dalam Skala Kecil Seringkali Disebabkan Karena Tekanan Langsung Dari Manusia (Contohnya Polusi) Yang Berpengaruh Pada Karang DalammSkala Kecil Yang Terlokalisir. Pada Saat Pemanasan Dan Dampak Langsung Manusia Terjadi Bersamaan, Satu Sama Lain Daapt Saling Mengganggu. Apabila Suhu Rata-Rata Terus Menerus Naik Karena Perubahan Iklim Dunia, Karang Hampir Dapat Dipastikan Menjadi Subjek Pemutihan Yang Lebih Sering Dan Ekstrim Nantinya.Oleh Karena Itu, Perubahan Iklim Saat Ini Dapat Menjadi Ancaman Terbesar Satu-Satunya Untuk Terumbu Karang Diseluruh Dunia. Dimana Saja Pemutihan Karang Telah Terjadi? Pemutihan karang 1998 adalah salah satu dari yang terluas secara geografis yang pernah terjadi dengan tingkat kematian karang tertinggi yang pernah tercatat, khususnya di daerah Samudera Hindia. SPL naik diatas batas toleransi dalam jangka waktu yang lama (lebih dari 5 bulan) daripada yang pernah dicatat sebelumnya (Goreau et al., 2000; Spencer et al., 2000). Karang-karang bercabang merupakan yang pertama kali terkena, dimana karang-karang masif, yang tampaknya lebih mampu mengatasi hangatnya SPL yang luar biasa, juga terpengaruh saat kondisi ini berlanjut. Daerah yang terpengaruh di wilayah Samudera Hindia meliputi sebagian besar terumbu karang disepanjang garis pantai timur Afrika; Arab, kecuali Laut Merah bagian utara; Kepulauan Komoros; sebagian dari Madagaskar; Kepulauan Seychelles; selatan India dan Sri Langka; Kepulauan Maldiva dan Kepulauan Chagos. Di tempattempat tersebut, banyak karang tidak dapat bertahan hidup dan kematian karang berkisar 70–99% Terumbu di selatan Samudera Hindia sekitar Reunion, Mauritius, Afrika Selatan dan Madagaskar juga terkena dampaknya walaupun tidak separah atau selama itu. Kebanyakan karang akhirnya pulih seperti sediakala. Hal ini diperkirakan karena kondisi muson saat itu, sehingga terjadi penutupan awan yang mengurangi intensitas sinar matahari (juga tentunya ultraviolet) menembus karang di perairan dangkal Pasifik bagian timur adalah daerah pertama yang terkena, dimulai bulan September 1997 dengan kondisi paling parah yang pernah dialami didaerah ini sejak catatan seperti ini disimpan; SPL bercokol diatas batas selama lebih dari 5 bulan (Goreau et al., 2000). Yang menarik adalah daerahdaerah yang pulih seperti semula semenjak pemutihan awal ditahun 1983, 1987, 1992, 1993 dan 1997; selamat dari peristiwa 1997 tersebut, sementara daerah-daerah yang tidak pernah terkena sebelumnya mengalami kerusakan saat ini . Di Pasifik bagian barat, SPL berada diatas batas selama lebih dari 5 bulan dibeberapa tempat. Beberapa bagian dari Great Barrier Reef mengalami pemutihan, dengan kematian karang mencapai 70–80% dibeberapa lokasi (Goreau et al., 2000) sedangkan ditempat lain kematian karang kurang dari 17% (Wilkinson, 1998). Beberapa terumbu di Filipina, Papua Nugini dan Indonesia juga menderita, walaupun banyak terumbu di Indonesia bagian tengah selamat karena naiknya air dingin dari bawah laut (upwelling). Di Karibia dan Atlantik utara, pemutihan memuncak selama Agustus dan September 1998, kehangatan air yang abnormal bertahan selama 3–4 bulan (Goreau et al., 2000). Kerusakan lanjutan karena topan dibeberapa lokasi mungkin telah memperburuk dampak ekrusakan (Mumby, 1999) Laporan-laporan menunjukkan 60–80% dari koloni terpengaruh, tetapi dalam banyak kasus, pemutihan diikuti oleh pemulihan substansial (Goreau et al., 2000). Tinjauan umum peristiwa pemutihan 1998 ini menggarisbawahi bagaimana variasi pemutihan dapat terjadi dalam berbagai batasan geografis, kerusakan regional dan bahkan ketidakumuman yang terjadi dalam skala kecil. Jumlah pemutihan—berbanding dengan jumlah kematian sesungguhnya- dapat pula bertambah tinggi variasinya bahkan dalam satu sistem terumbu. Contoh-contoh dari Karibia dan Samudera Hindia selatan menunjukkan pemutihan yang ekstensif dapat diikuti oleh pemulihan yang berarti. Kita masih harus belajar banyak mengenai pola-pola variasi dan sifat dari fenomena pemutihan ini.

 BAB III ANCAMAN-ANCAMAN LAIN TERHADAP TERUMBU KARANG Pemutihan akibat perubahan iklim bukanlah satu-satunya ancaman bagi terumbu karang. Para peneliti dan pengelola telah prihatin selama bertahun-tahun akan meningkatnya dampak kegiatan manusia yang menurunkan kondisi terumbu karang dunia (Brown, 1987; Salvat, 1987; Wilkinson, 1993; Bryant et al., 1998; Hodgson, 1999). Perkiraan terakhir menunjukkan bahwa 10% dari terumbu karang dunia telah mengalami degradasi yang tak dapat dipulihkan dan 30% lainnya dipastikan akan mengalami penurunan berarti dalam kurun waktu 20 tahun mendatang (Jameson et al., 1995). Analisa ancaman-ancaman yang potensial bagi terumbu karang dari kegiatan manusia (pembangunan daerah pesisir, eksploitasi berlebihan dan praktek perikanan yang merusak, polusi darat dan erosi dan polusi laut) di tahun 1998 memperkirakan bahwa 27% dari terumbu berada di tingkat berisiko tinggi dan 31% lainnya berada di risiko sedang (Bryant et al., 1998). Ancamanancaman ini sebagian besar merupakan hasil dari kenaikan penggunaan sumber-sumber pesisir oleh populasi pesisir yang berkembang secara cepat, ditunjang oleh kurangnya perencanaan dan pengelolaan yang tepat. Terumbu yang telah mengalami tekanan akibat kegiatan manusia dapat menjadi lebih rentan untuk memutih bilamana HotSpots meluas, karena karang yang telah lemah dapat berkurang kemampuannya menghadapi naiknya SPL sebagai tekanan tambahan. Lebih lanjut lagi bahkan setelah SPL kembali normal, dampak manusia dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan karang baru.Tentunya, terumbu yang pernah dihadapkan pada gangguan manusia yang berlanjut seringkali menunjukkan kemampuan yang rendah untuk pulih (Brown, 1997). Dilain pihak, terumbu yang tidak diganggu oleh kegiatan manusia dapat memiliki kemampuan yang lebih baik untuk pulih, bila keadaan lingkungan optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan karang. Secara historis, terumbu karang telah mampu pulih dari gangguan alam berkala (contohnya topan, predator yang berlebihan, dan beragam penyakit). Justru gangguan kronis dari kegiatan manusialah yang leih merusak saat ini. Ini membawahi pentingnya sedapat mungkin menghilangkan seluruh dampak langsung negatif manusia untuk memberi terumbu kesempatan terbaik agar pulih dari pemutihan. Dampak tersebut dihasilkan dari serangkaian kegiatan diantaranya: • Pembangunan pesisir untuk perumahan, resort, hotel, industri, pelabuhan dan pembangunan marina seringkali menyebabkan reklamasi daratan dan penggerukan tanah. Ini dapat meningkatkan sedimentasi (sehingga karang dan mengakibatkan tingginya persentase kematian ikan yang belum dewasa (yaitu bibit ikan dewasa dimasa mendatang). Penggunaan sianida dan racun lain untuk menangkap ikan akuarium juga berdampak negatif. • Pembuangan limbah industri dan rumahtangga meningkatkan tingkat nutrisi dan racun dilingkungan terumbu karang. Pembuangan limbah tak diolah langsung ke laut menambah nutrisi dan pertumbuhan alga yang berlebihan. Limbah kaya nutrisi dari pembuangan atau sumber lain khususnya amat mengganggu, karena mereka meningkatkan perubahan besar dari struktur terumbu karang secara perlahan danmteratur. Alga mendominasi terumbu hingga melenyapkanmkarang pada akhirnya(Done, 1992; Hughes, 1994). • Kegiatan kapal dapat berdampak bagi terumbu melalui tumpahan minyak dan pembuangan dari ballast kapal. Walaupun konsekuensinya kurang dikenal, hal ini berdampak lokal yang berarti. Kerusakan fisik secara langsung dapat terjadi karena kapal membuang sauh di terumbu karang dan pendaratan kapal tak disengaja. • Banyak kegiatan lain yang terjadi langsung di terumbu karang menyebabkan kerusakan fisik bagi karang dan oleh karena itu mempengaruhi integritas struktur karang. Kerusakan seperti ini seringkali terjadi dalam hitungan menit tetapi tahunan untuk memperbaikinya. Sebagai tambahan dari kegiatan sebagaimana disebutkan diatas, kerusakan dapat pula disebabkan karena orang menginjak karang untuk mengumpulkan kerang dan organisme lain didataran terumbu karang atau di daerah terumbu karang yang dangkal, dan penyelam (diving maupun snorkel) berdiri diatas atau mengetuk-ketuk terumbu karang. mengurangi cahaya dan menutupi karang) dan menimbulkan kerusakan fisik langsung bagi terumbu. Untungnya, ancaman-ancaman ini dapat dikurangi atau dikontroldengan kekuasaan yang dimiliki oleh para pengelola dan pembuat keputusan. Dibanyak lokasi, terumbu karang mungkin menghadapi beberapa dari ancaman ini, kesemuanya mungkin dilakukan pada saat yang sama dan mempunyai dampak yang berbeda-beda tingkatannya. Oleh karenanya, adalah amat penting untuk menganalisa secara cermat situasi disetiap lokasi untuk menentukan prioritas dan mengembangkan rencana tindakan yang efektif. Pengelola dan para pembuat keputusan harus mengenali dampak manusia yang dapat dikurangi secara mudah, dan berakibat sebaik mungkin bagi terumbu. Ini melibatkan pertimbangan kapasitas dan finansial yang tersedia serta struktur pengelolaan yang ada, juga analisa kemungkinan pemulihan terumbu setelah pemutihan atau bentuk kerusakan lainnya. Oleh karena itu sebelum kita membicarakan pilihan strategi pengelolaan, kita harus mempertimbangkan keadaan umum dari terumbu karang dimasa mendatang.

BAB IV APAKAH YANG AKAN TERJADI DI MASA MENDATANG? Gangguan terbesar bagi terumbu baik secara lokal maupu global menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan terumbu karang: • Apakah terumbu mampu pulih kembali setelah kematian massal, dan bila terjadi, kapan? • Seperti apakah terumbu karang dimasa mendatang? Samakah seperti sebelumnya? • Apa yang dapat kita harapkan dari perubahan iklim dunia? • Apakah gangguan ini terulang kembali? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sulit terjawab, tetapi penelitian terakhir mulai menyediakan beberapa jawaban. Kemampuan pemulihan terumbu karang Kemampuan pemulihan terumbu karang adalah kemampuan dari suatu koloni individual atau suatu sistem terumbu karang (termasuk semua penghuninya), untuk mempertahankan diri dari dampak lingkungan serta menjaga kemampuan untuk pemulihan dan berkembang (Moberg dan Folke, 1999). Tampaknya dampak yang merusak dan berkesinambungan secara perlahan-lahan dapat mengurangi secara progresif kemampuan pemulihan dari dampakdampak tersebut. Ini dapat mengganggu pemulihan terumbu karang dari suatu gangguan dan kemungkinan menjadi penyebab dari dominasi karang menjadi sistem dominasi alga (Done, 1992; Hughes, 1994). Penelitian terhadap kemampuan pemulihan terumbu karang dan penghuninya masih terus dilakukan, karena sedikit yang diketahui tentang lamanya waktu pemulihan bagi populasi lain selain karang (McClanahan et al., in press). Sementara itu, tujuan logis bagi para pengelola dan pembuat keputusan adalah pemanfaatan prinsip-prinsip dasar dari penggunaan berkelanjutan dan pengelolaan yang cocok untuk melestarikan kemampuan pemulihan. Ini merupakan langkah-langkah proaktif untuk memaksimalkan daya tahan karang-karang dan terumbu karang terhadap gangguan dan mengangkat kemampuan pemulihan sampai batas maksimal setelah gangguan berlalu. Sejarah gangguan bagi terumbu mempengaruhi struktur terumbu karang saat ini karena terumbu karang adalah ekosistem yang dinamis secara alamiah. Selama pemulihan, jenis biota berinteraksi dan merubah kelimpahan serta peranan dalam struktur komunitasnya. Hasilnya adalah pertumbuhan terumbu menjadi komunitas yang berbeda dari sebelumnya secara substansial akibat pemutihan dan tetap dalam ekosistem yang berkembang dan beragam. Kembalinya ekosistem terumbu karang ke fungsi semula setelah kematian akibat pemutihan masal bergantung pada kesuksesan reproduksi dan rekolonisasi karang-karang yang tersisa dan dari karang-karang yang berada diluar populasi sumber terumbu (lihat Done, 1994, 1995). Karang bereproduksi secara seksual dan diluar kelamin (aseksual). Reproduksi seksual melibatkan pembuahan telur karang oleh sperma untuk membentuk larva yang berenang bebas. Larva-larva tersebut dapat beradaptasi dengan baik untuk distribusi serta tergantung dari jenis dan kondisinya dapat menjadi bibit dimana mereka berasal, didekat terumbu karang, atau terumbu karang yang ratusan kilometer jauhnya (Richmond, 1997). Distribusi ini membutuhkan arus laut yang tepat untuk membuahi karang di hilir dan penting untuk menjaga keragaman genetik antara populasi karang dan terumbu karang. Peremajaan (recruitment) adalah suatu proses dimana karang yang masih muda mengalami penempelan larva dan bermetamorfosis menjadi bagian dari populasi dewasa dan komunitas terumbu karang. Setelah melewati tahap berenang bebas di kolom perairan, larva kemudian menempel pada substrat yang cocok; keberadaan substrat yang baik penting bagi kesuksesan peremajaan karang. Lokasi penempelan yang baik cenderung berkarakter seperti dibawah ini (Richmond, 1997): • Tipe dasar perairan yang stabil – substrat bukan terdiri dari sedimen lepasan atau bahan yang tidak padat. • Gerakan air di lokasi penempelan harus mendekati tenang, walaupun dalam kondisi-kondisi tertentu, gerakan air yang tinggi dapat mendorong pertumbuhan. • Kadar garam secara umum harus diatas 32‰ dan dibawah 38–40‰. • Ada sumber cahaya bagi zooxanthellae untuk berfotosintesis • Sedimentasi terbatas di kolom air (air jernih lebih ideal) untuk mengurangi kemungkinan kekurangan dan ketidakcukupan transmisi sinar matahari. • Ketiadaan alga makro (besar) (sebagai kebalikan darinturf alga) yang mampubbersaing tempat dengan karangbdan membatasi penempelan larva. Sekali menempel, karang harus bersaing dengan organisme lain yang berkembang lebih cepat seperti alga dan invertebrata yang mengeras dan menghindari dimangsaoleh ikan pemakan karang. Kegagalan reproduksi (contohnya, jika semua karang telah dewasa secara seksual mati akibat pemutihan) dan lokalisasi peremajaan akan memperlambat pemulihan karang-karang yang telah rusak (Richmond, 1997). Akan tetapi, tutupan karang masih mungkin kembali pada akhirnya melalui reproduksi aseksual. Reproduksi aseksual terjadi bila patahan-patahan karang terlepas dari koloni induknya, biasanya dikarenakan dampak fisik dari, contohnya gelombang atau badai. Patahan sangat rapuh terhadap dampak fisik dan dapat dengan mudah kehilangan lapisan tipis dari jaringan hidup nya bila tergulung dari dasar perairan karena gerakan air. Akan tetapi, apabila patahan mendarat pada substrat yang tepat, maka ia dapat menempelkan kembali dirinya sendiri dan berkembang menjadi koloni baru. Suatu terumbu dimana mayoritas karangnya telah mati tetapi telah berstruktur, dapat tetap menjadi substrat yang stabil dan tepat untuk karang-karang muda dan patahan untuk menempel dan tumbuh. Sehingga terjaganya karangkarang yang telah mati tetap berharga. Karang yang telah mati, rapuh terhadap organisme yang melubangi mereka dan melemahkan struktur terumbu karang. Gelombang yang kuat atau badai dapat merusakkan terumbu karang dalam kondisi tersebut, mengubah suatu struktur yang kompleks menjadi ladang kerikil yang tidak cocok untuk tempat penempelan karang. Akan tetapi, alga merah berkapur (red coralline algae) dapat membantu melengketkan terumbu, mengurangi keretakan dan menyediakan substrat yang cukup untuk penempelan larva. Perubahan iklim dunia dan terumbu karang Dalam 200 tahun terakhir, terumbu karang telah beradaptasi terhadap sejumlah perubahan; tetapi, selama waktu tersebut, tidak ada tekanan dari manusia. Terumbu karang saat ini menghadapi serangkaian ancaman kombinasi dari eksploitasi yang berlebihan, polusi dan khususnya perubahan iklim dunia. Kesemua ancaman tersebut saat ini meningkat jumlahnya, dan kegiatan-kegiatan manusia menyebabkan percepatan perubahan iklim dunia yang dapat membuat terumbu karang sulit beradaptasi. Perubahan iklim dunia mempunyai 6 dampak utama bagi terumbu karang: 1. Naiknya permukaan laut Terumbu karang yang tidak bermasalah, kebanyakanmmampu bertahan dengan naiknya permukaan laut yang telah diperkirakan kurang lebih 50 cm hingga tahun 2100 (Panel antar Pemerintahan untuk Perubahan Iklim/ IPCC, 1995). Dataran terumbu yang terbuka pada saat surut, yang membatasi pertumbuhannya keatas, dapat mengambil keuntungan dari kenaikan itu. Akan tetapi, karang yang telah melemah karena meningkatnya suhu atau faktor-faktor lain (lihat di bawah) mungkin tidak dapat tumbuh dan membangun kerangka tulang mereka secara normal. Apabila hal ini terjadi, pulau-pulau yang rendah (low-lying) tidak mendapat perlindungan dari terumbu karang disekitarnya seperti saat ini terhadap energi gelombang dan badai. Ini telah menjadi salah satu perhatian dari negara-negara seperti Maldiva di Samudera Hindia serta Kiribati dan Kepulauan Marshall di Samudra Pasifik, dimana daratan berketinggian ratarata kurang dari 3 meter diatas permukaan air laut. 2. Kenaikan Suhu Kenaikan suhu laut 1–2°C diperkirakan terjadi tahun 2100 (Bijkma et al., 1995). Di banyak daerah tropis bahkan telah terjadi kenaikan 0,5°C selama 2 dekade terakhir (Strong et al., 2000). Tampaknya mungkin hanya perubahan kecil, tetapi ini dapat diartikan bahwa selama periode yang lebih hangat dari fluktuasi musim yang normal, suhu akan melebihi batas toleransi dari hampir semua jenis karang. Ini dapat menaikkan frekuensi pemutihan (Hoegh Guldberg, 1999). Suatu kenaikan suhu dapat berarti daerah yang saat ini berada diluar wilayah terumbu karang akan menjadi tepat untuk pertumbuhan karang, menghasilkan perpindahan geografis dari distribusi populasi pembangun terumbu karang. Memang membutuhkan waktu sebelum hal ini terbukti; dan bilamana hal ini terjadi, faktor-faktor lingkungan lain dengan posisi lintang yang lebih tinggi mungkin tidak kondusif untuk pertumbuhan terumbu karang. Lebih lanjut lagi, naiknya SPL mempengaruhi kepekaan zooxanthellae, contohnya sinar yang diperlukan untuk fotosintesis malah merusak sel-selnya (Hoegh-Guldberg, 1999). Karang malah dapat menjadi rapuh terhadap kenaikan radiasi sinar UV karena menipisnya lapisan ozon. 3. Berkurangnya tingkat pengapuran Emisi global dari gas rumah kaca meningkatkan konsentrasi karbon dioksida di atmosfir dan di lautan ke tingkat yang akhirnya mengurangi kemampuan terumbu karang untuk tumbuh dengan proses pengapuran normal. Tingginya konsentrasi karbon dioksida meningkatkan keasaman air, yang menurunkan tingkat pengapuran karang .Telah diperkirakan bahwa tingkat pengapuran dapat menurun kurang lebih 14–30% tahun 2050 (Hoegh- Guldberg, 1999). Ini akan mengurangi kemampuan terumbu untuk pulih dari peristiwa seperti pemutihan karang dan juga merusak kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan kenaikan permukaan laut dan perubahan geologi. 4. Perubahan pola sirkulasi lautan Jika perubahan pola sirkulasi lautan dalam skala besar berkembang, hal ini dapat mengubah distribusi dan transportasi larva karang (Wilkinson dan Buddemeier, 1994). Hal ini dapat berdampak pada perkembangan dan distribusi terumbu karang diseluruh dunia. 5. Pertambahan frekuensi kejadian cuaca yang merusak Perubahan pola tahunan atmosfir dapat mengakibatkan berubahnya frekuensi dan intensitas badai dan angin puyuh, juga perubahan pola presipitasi. Meningkatnya badai dapat mengakibatkan peningkatan kerusakan tidak hanya pada terumbu karang, tetapi juga komunitas pesisir. Jika perubahan berlanjut seperti yang telah diperkirakan, pemutihan karang dapat menjadi hal biasa dalam kurun waktu 30–50 tahun (Hoegh-Guldberg, 1999). Peningkatan frekuensi pemutihan dapat memaksa karang untuk beradaptasi. Adaptasi dapat timbul dalam 2 cara : • Karang berubah secara fisiologis menjadi lebih toleran terhadap suhu tinggi. • Kemungkinan terjadinya kematian populasi atau jenis karang dan zooxanthellae yang tidak mampu mengatasi suhu yang lebih tinggi- dan jenis yang kurang toleran ini akan menghilang (Warner et al., 1996; Hoegh-Guldberg, 1999). Informasi lebih lanjut dari skenario adaptasi potensial dijelaskan dalam Hoegh-Guldberg (1999). Terumbu secara keseluruhan adalah ekosistem tangguh, sebagaimana telah dibuktikan dengan sejarah geologi. Gangguan besar dimasa lalu telah menyebabkan hilangnya beberapa jenis jenis karang, tetapi yang lain berhasil berevolusi menjadi jenis baru. Karang yang telah menjadi struktur fosil seringkali terlihat di tebing, kadang-kadang jauh di daratan. Terumbu seringkali harus mengalami perubahan besar dalam struktur dan komposisi seiring dengan waktu, sementara yang tersisa dikenal sebagai terumbu karang(Veron, 1995). Oleh karena itu, pengelolaan terumbu karang secara hati-hati—bahkan yang telah rusak sekalipun—adalah sungguh bernilai, karena dapat membantu kesempatan bertahan dari sistem hidup lama ini.

BAB V KENAPA TERUMBU KARANG YANG RUSAK TETAP HARUS DIKELOLA? Pengelola dan para pihak yang terkait telah menanyakan cara menangani terumbu karangyang telah rusak dan putih, seperti: • Tindakan apa yang harus diambil untuk membantu dan mempercepat pemulihan terumbu karang karena pemutihan yang berhubungan dengan kematian? • Bagaimana cara meyakinkan pembuat keputusan dan pemerintah akan nilai dari usaha mempertahankan taman laut dan usaha pelestarian menghadapi penurunan terumbu karangkarena pemutihan? • Haruskah berinvestasi dalam proyek rehabilitasi terumbu karangyang riskan dan mahal? • Apa dampak sosioekonomi dari pemutihan dan dapatkah dampak tersebut dikurangi? • Apa yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan pemutihan dimasa mendatang? Seperti telah dijelaskan dibagian sebelumnya, terumbu karang yang telah rusak mempunyai potensi untuk pulih. Terumbu karang telah rusak karena topan, badai dan kegiatan manusia, tetapi telah pulih kembali pada saat dampak tersebut dihentikan atau dikurangi. Kemampuan pemulihan ini dapat dikatakan untung karena banyak orang bergantung pada terumbu karang untuk kehidupan mereka. Ekonomi Maldiva, contohnya, secara tradisional adalah perikanan dan pariwisata, keduanya berhubungan langsung dengan terumbu karang, yang telah rusak karena pemutihan. Oleh karena itu, ada beberapa alasan untuk melang sungkan usaha pengelolaan untuk: • Memastikan kondisi yang optimal bagi pemulihanterumbu karang • Memastikan perikanan yang berkelanjutan. • Memastikan kelangsungan industri pariwisata Kondisi yang optimal untuk pemulihan ekosistem terumbu karangsecara maksimal meliputi: • Permukaan dasaran yang padat, bebas alga dimana larva karang dapat menempel dan tumbuh; bilamana karang mati selama pemutihan, batu yang mereka tinggalkan menjadi substrat yang potensial untuk peremajaan. • Daerah bebas penangkapan ikan yang berlebihan, sedimentasi, polusi, pupuk, limbah tak diolah dan bahanbahan lain yang dapat mengurangi pertumbuhan dan mempengaruhi kelangsungan peremajaan karang; kualitas air yang baik dan pengurangan dampak fisik yang mampu menunjang pertumbuhan dan peremajaan karang. • Keberadaan karang dewasa yang matang secara seksual didaerah tersebut sebagai penyedia larva baru, kemampuan terumbu karang yang tak terganggu, jauh dari terumbu karang yang rusak, untuk menyediakan larva akan bergantung dari arus laut yang sesuai dan kesehatan terumbu karang induk. Karang lokal yang tersisa dapat pula menjadi sumber larva di daerah tersebut. • Perlindungan dari penangkapan ikan yang berlebihan untuk mempertahankan populasi ikan yang sehat, ikan herbivora akan memakan alga dan menjaga karang yang mati sebagai substrat bagi kolonisasi karang. Kondisi-kondisi ini dapat dimaksimalkan dengan pengelolaan yang terencana dengan baik. Dengan menggunakan latar belakang informasi yang telah kita tinjau ulang sejauh ini, kini kita dapat berbicara tentang strategi pelestarian terumbu karangdalam konteks DPL, perikanan, pariwisata dan PPT.


BAB VI DAERAH PERLINDUNGAN LAUT DAN TERUMBU YANG RUSAK Setelah kematian yang mengikuti beberapa peristiwa pemutihan, khususnya tahun 1998, tidak pernah terjadi lagi pemusnahan total seluruh karang hidup dimanapun. Bahkan pada kasus terburuk sekalipun, koloni yang terpisah dan terumbu-terumbu karang kecil yang tak beraturan berhasil hidup. Lebih lanjut lagi, peremajaan karang baru seringkali terlihat dalam kurun waktu 1 tahun setelah peristiwa tersebut. Ini merupakan titik awal pemulihan karang dan harapan di masa mendatang. Peranan daerah perlindungan laut (DPL) DPL dapat memegang peranan yang semakin penting bagi pelestarian dan pengelolaan terumbu karang nantinya dengan cara: • Melindungi daerah terumbu karang yang tidak rusak yang dapat menjadi sumber larva dan sebagai alat untuk membantu pemulihan. • Melindungi daerah yang rapuh untuk HotSpot, contohnya karena kenaikan air dingin dari bawah laut dimasa mendatang, nantinya. • Melindungi daerah yang bebas dari dampak manusia dan cocok sebagai substrat bagi penempelan karang dan pertumbuhan kembali. • Memastikan bahwa terumbu karang tetap menopang kelangsungan kebutuhan masyarakat sekitar yang bergantung padanya. Daerah dimana karang telah mampu bertahan hidup pada peristiwa penghangatan air dapat menjadi kunci penting bagi persediaan larva karang guna mengisi daerah yang berkurang. Terumbu karang yang berpotensi sebagai penyedia larva seringkali dikenal sebagai terumbu karang sumber (source reefs), sedangkan terumbu karangyang menerima larva melalui arus laut seringkali disebut terumbu karang penampung (sink reefs). Kadang terumbu karang menjadi penampung pada suatu masa dalam setahun dan sumber di kala lain dimana arus muson berbalik pada musim yang berbeda-beda. Sumber terumbu karang menjadi upstream dari terumbu karang yang rusak jika arus laut memegang peranan penting dalam pemindahan larva dan pemulihan terumbu. Kantungkantung karang hidup pada terumbu karang yang rusak dapat pula sebagai sumber larva karang. Karang ini dapat saja dapat bertahan karena mereka berada dalam terumbu karang yang lebih dalam dengan perubahan suhu lebih sedikit, di laguna, dimana mereka terbiasa dengan fluktuasi suhu harian yang besar; atau dilindungi oleh fenomena lautan tertentu, seperti naiknya air dingin dari bawah laut. Sumber larva yang potensial ini harus diketahui, dikelola secara tepat dan dilindungi dari kerusakan lebih lanjut, khususnya bilamana dipengaruhi oleh manusia, dalam rangka meningkatkan pemulihan dan membantu kemampuan pemulihan dari individu koloni karang dan sistem terumbu karang secara keseluruhan. Beberapa faktor penentu apakah suatu terumbu karang merupakan sumber larva karang yang baik: • Keberadaan koloni karang besar yang mampu memproduksi larva dalam jumlah banyak. • Keragaman karang yang tinggi, yang mampu meningkatkan kesempatan kolonisasi yang cepat bagi jenis cepat tumbuh dan bagi jenis lambat tumbuh. • Keberadaan dampak manusia terhadap terumbu karang seminim mungkin, sehingga dapat memaksimalkan kesempatan reproduksi karang dan kelangsungan hidup larva . • Terjadinya naiknya air dingin dari bawah laut, yang membantu transportasi dan kelangsungan hidup larva karang. • Keberadaan angin besar dan arus laut yang melintasi terumbu karang sumber dan menuju ke arah terumbu karang penampung. Tindakan-Tindakan Pengelolaan 1. Pengidentifikasian wilayah-wilayah terumbu karang yang kurang rusak dan meninjau ulang sistem zonasi dan batasan-batasan. Survei terumbu-terumbu karang dikawasan DPL adalah keharusan yang amat penting untuk dilakukan, untuk mengidentifikasi terumbu karang sehat dan yang dapat menyumbang bagi pemulihan wilayah tersebut secara keseluruhan. Dimana situs-situs ini kurang terlindungi, perhatian harus diberikan untuk memperbaiki sistem zonasi dan/atau batasan DPL secara keseluruhan. Menciptakan zona baru atau merubah batasan DPL 2. Menjamin bahwa DPL dikelola secara efektif. Terumbu-terumbu karangyang rusak di DPL kemungkinan pulih lebih cepat jika mereka dikelola secara tepat dan tidak diberikan beban tambahan seperti contohnya kunjungan wisatawan yang banyak sekali. Sejumlah buku pegangan untuk panduan dan pengelolaan tersedia untuk membantu dalam hal ini (contohnya Kelleher, 1999; Salm dan Clark, 2000). Kursus-kursus pelatihan untuk para pengelola DPL kini tersedia luas dan program-program pembangunan kapasitas juga sedang dikembangkan dibanyak daerah (contohnya Samudera Hindia barat (Francis et. al., 1999) Keterlibatan masyarakat akan meningkatkan efektifitas dan kesuksesan pengelolaan DPL (Walters et. al., 1998), sebagaimana dimasukkannya DPL kedalam kerangka PPT . Pengelola DPL harus turut serta dalam perencanaan dan pelaksanaan PPT untuk mempromosikan perlunya terumbu karang dan mendorong terciptanya keadaan yang akhirnya mengarah kepada pemulihan terumbu karang. Kerusakan terumbu-terumbu karang mempengaruhi jumlah wisatawan ke DPL, sebagaimana juga kehidupan orangorang yang bergantung pada DPL sebagai pekerja, seperti naturalis, pramuwisata, dan karyawannya . 3. Mengembangkan pendekatan lebih strategis untuk mendirikan sistem DPL. Untuk pengembangan sistem DPL skala nasional dan regional, pendekatan lebih strategis mungkin diperlukan untuk memperhatikan terumbu karang sumber dan penampung dan pola penyebaran larva karang. Penelitian terhadap pola arus penyebaran larva akan sangat berguna, akan tetapi pola penyebaran untuk jarak jauh yang tidak tepat tidak boleh menghalangi pendirian daerah perlindungan; yang masih akan berfungsi sebagai terumbu karang sumber untuk pembaharuannya dan penyebaran yang terlokalisir (Roberts, 1998). Karena penyebaran larva karang terjadi melewati batasan-batasan nasional dan politik maka kerjasama internasional dan regional amat diperlukan. Permasalahan penyebaran larva yang “lintas batas” sepenting masalah lintas batas dalam hal polusi laut dan perikanan, yang diatur oleh perjanjian regional dan internasional. Pertimbangan strategis penting lainya adalah konsep melindungi terumbu karang (bet-hedging) melawan kemungkinan pemutihan dengan cara pendirian sistem yang mencakup penyebaran geografis yang luas dan keanekaragaman jenis-jenis terumbu karang. Bila suatu sistem DPL mencakup jangkauan geografis penuh maka kemungkinan besar terumbu-terumbu karang sehat yang terlindung dengan baik akan selamat bilamana HotSpot berkembang tak terduga diseluruh wilayah tersebut. Sistem DPL harus memasukkan semua jenis-jenis habitat setara dengan profil terumbu karang(contohnya rataan terumbu karang, tubir, laguna, dan celah laguna) dengan alasan yang sama. BAB VII PERIKANAN DAN PEMUTIHAN KARANG Terumbu karang membantu perikanan dalam nilai besar, termasuk ikan dan jenis invertebrata. Pemanfaatan oleh manusia dapat timbul dalam skala komersial besar atau dalam skala artisanal kecil. Tujuan utama dari beberapa perikanan adalah mengumpulkan makanan, sementara perikanan lainnya dapat berkaitan dengan pengumpulan barang-barang cinderamata dan perdagangan akuarium. Kesemua bidang usaha ini dapat terpengaruh oleh pemutihan karang. Sementara kebanyakan penelitian perikanan saat ini masih terfokus pada ikan yang dapat dimakan, kita dapat saja menggunakan teori mutakhir untuk mengurangi dampak potensial pemutihan dan degradasi terumbu karangpada perikanan terumbu karang secara garis besar. Setelah mengkaji ulang teori-teori dasar perikanan kami akan menerapkan prinsip pencegahan untuk membuat beberapa usulan dalam garis besar. Dampak pemutihan karang bagi perikanan dapat mengikuti teori umum interaksi habitat ikan terhadap terumbu karang (Pet-Soede, 2000). Terpisah dari peledakan itu sendiri, beberapa faktor memberi sumbangan terhadap komposisi komunitas ikan di terumbu, yang kesemuanya berhubungan dengan struktur fisik dan kompleksitas terumbu karangitu. Pertama-tama, kompetisi untuk makanan adalah faktor penting dalam menentukan keanekaragaman dan kelimpahan ikan. Pada terumbu karang sehat, keragaman dan kuantitas makanan adalah tinggi dan ini berdampak positif langsung pada keragaman dan kelimpahan ikan (Robertson dan Gaines, 1986). Pada terumbu karang yang kurang sehat, karang mati akan cepat ditumbuhi oleh alga secara berlebihan, alga kemudian dimakan oleh herbivora seperti ikan kakatua (parrotfish, Scarus spp.), dan populasi jenis-jenis ini dapat meningkat. Pemakanan dalam jumlah besar oleh jenis-jenis ini kadangkala merusak struktur terumbu, menyebabkan erosi kerangka karang, tetapi mereka juga membatasi pertumbuhan alga. Meningkatnya populasi ikan bernilai komersial ini juga merupakan keuntungan ekonomis. Kedua, terumbu karang menyediakan lingkungan yang tepat untuk kegiatan reproduksi dan penempatan larva ikan dan ini akan turut menentukan struktur komunitas ikan dewasa nantinya (Medley et al., 1983; Eckert, 1987; Lewis, 1987). Terumbu karang berstruktur kompleks yang sehat akan memaksimalkan jumlah keragaman dan kuantitasruangan guna kesuksesan reproduksi. Akhirnya, terumbu karang menyediakan naungan dan perlindungan dari para predator, khususnya bagi ikan berjenis kecil dan ini mempengaruhi pola kelangsungan hidup dan kelimpahannya saat dewasa (Eggleston, 1995). Secara garis besar, terumbu karang sehat berdampak positif bagi ketiga faktor tersebut (makanan, reproduksi dan naungan) dan imbalannya adalah peningkatan keragaman dan kelimpahanikan. Bagaimana perubahan hasil perikanan pada terumba karang yang rusak Penelitian terakhir menyarankan bahwa pemutihan karang tidak cepat berdampak bagi tangkapan ikan. Sebagiannya dikarenakan fakta bahwa komunitas ikan terumbu karang bereaksi lambat terhadap perubahan lingkungan, dan sebagian karena beberapa perikanan bergantung pada rangkaian tunggal terumbu karang. Kematian karang yang setelah pemutihan akan, akhirnya, mempengaruhi suatu perikanan seiring dengan degradasi struktur terumbu karang dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi adalah (Pet-Soede, 2000): • Dimana tidak terdapat karang mati, walaupun pemutihan telah terlokalisir atau ekstensif, sangat kecil kemungkinan terjadi perubahan pada perikanan, baik pada komposisi penangkapan atau tingkat tangkapan. • Dimana pemutihan telah terlokalisir dan kematian karang rendah, perubahan lokal mungkin terjadi pada struktur komunitas ikan terumbu karang, khususnya jika jenis karang tertentu telah terpengaruh. Hasil penurunan keragaman karang dan kompleksitas habitatdapat mempengaruhi komposisi tangkapan lokal dan tingkat tangkapan. • Dimana pemutihan terjadi secara ekstensif dan menyebabkan kematian karang masal, dapat terjadi perubahan penting dibidang perikanan, dengan perubahan berjangka lebih panjang berkaitan dengan hilangnya kompleksitas habitat dan keanekaragaman melalui erosi karang mati. Jenis pemakan karang, seperti ikan kepe-kepe (butterflyfish), dan yang khusus memanfaatkan karang sebagai naungannya, seperti beberapa ikan damsel (damselfish) dapat dipastikan sebagai kelompok ikan yang pertama kali akan menurun. Akan tetapi, beberapa laporan menyatakan bahwa perubahan yang pertama kali mungkin pada kuantitas pemakan alga seperti ikan kepe-kepe dan ikan butana (surgeonfish), sebagai hasil dari pertumbuhan alga yang berlebihan pada karang-karang mati (Goreau et al., 2000; McClanahan dan Pet-Soede, 2000) • Dampak tambahan potensial, walau belum dapat dipastikan, adalah pemutihan karang menyebabkan kenaikan keracunan ciguatera. Racun Ciguatera diproduksi oleh alga mikroskopik bersel tunggal (dinoflagellates) yang tumbuh sangat baik pada permukaan alga terumbu karangyang lebih luas dan lunak. Saat ikan memamah alga, racun terkumpul dalam tubuh mereka dan menyebabkan keracunan pada manusia. Fenomena ini sehubungan dengan gangguan pada ekosistem terumbu karang, mungkin dikarenakan peningkatan pertumbuhan alga besar yang berlebihan (yang menyediakan wilayah permukaan lebih luas bagi pertumbuhan dinoflagellate) pada terumbu karang yang terdegradasi (UNEP, 1999a; Quod et al., 2000). Perubahan pada suatu terumbu karang sebagai hasil kematian karang dapat mempengaruhi hasil perikanan, jenis perikanan dan ruang distribusi dari usaha perikanan: • Penurunan kemaksimalan hasil melalui reduksi dari makanan dan lingkungan yang tepat bagi reproduksi ikan dan tempat berlindungnya. Konsekuensinya dapat bervariasi sesuai dengan jenis perikanan. – Dalam perikanan yang bergantung sepenuhnya pada ikan terumbu karang, tingkat tangkapan mungkin berkurang dan komposisi tangkapan dapat berubah menjadi jenis herbivora. Ikan-ikan ini acapkali ber nilai jual lebih rendah, sehingga pendapatan nelayan berkurang. Komunitas nelayan dengan sedikit pilihan sumber pendapatan bisa saja kesulitan untuk kelangsungan hidupnya. – Perikanan yang menargetkan ikan besar yang berenang bebas dan mencari makanannya didekat terumbu karang akan mengalami penurunan tangkapan jika jenis tersebut pindah kedaerah yang lebih baik untuk mencari mangsanya. – Perikanan dengan target jenis ikan kecil yang berenang bebas dan menempati daerah terumbu karang atau laguna pada kurun waktu tertentu dalam hidupnya, mungkin akan mengalami penurunan tangkapan saat terumbu karang menghilang. – Perikanan multi-jenis dan multi-alat, yang umum di Samudera Hindia dan daerah terumbu karang lainnya, mungkin cukup fleksibel dalam beradaptasi pada perubahan persediaan ikan dan sumber mata pencaharian mereka.Jangka waktu yang cukup lama dalam perubahan persediaan ikan dapat memudahkan adaptasi ini. • Perubahan struktur terumbu karang mendorong penggunaan metode penangkapan ikan yang merusak, seperti trawling, yang sebelumnya tidak dipakai karena kerusakan peralatan memancing yang disebabkan oleh terumbu karang. • Perubahan tata ruang pada karakteristik habitat terumbu karang dapat mengakibatkan nelayan memindahkan usaha perikanan mereka kedaerah lain untuk beberapajenis ikan target. Tindakan-tindakan pengelolaan Bahkan pada saat pemutihan tidak terjadi, pengelolaan perikanan yang berkelanjutan adalah suatu tantangan, dengan banyaknya jumlah orang yang terlibat, banyak diantaranya tanpa sumber pendapatan atau protein alternatif. Banyak komunitas lokal akan memiliki sedikit pilihan mata pencaharian dan kecil kemungkinan untuk beradaptasi dengan kondisi baru ini. Meningkatnya pengertian, kerjasama dan perasaan memiliki dalam komunitas setempat adalah amat penting. Sementara ketidakpastian tentang dampak nyata pemutihan karang bagi perikanan berlangsung, langkah pencegahan dapat diambil dengan memberikan perhatian khusus bagi tindakantindakan sebagai berikut: 1. Mendirikan zona dilarang memancing dan pembatasanalat perikanan untuk melindungi tempat berkembang biak dan menyediakan tempat berlindung bagi ikan. 2. Mempertimbangkan ukuran perlindungan tertentu untuk: • Pemakan alga, seperti ikan kakatua dan ikan butana yang berperan penting untuk mempertahankan substrat yang tepat bagi penempelan larva karang. • Ikan pemakan karang, seperti ikan kepe-kepe dan ikan damsel (damselfish) yang ditangkap untuk perdagangan akuarium, mungkn berkurang populasinya karena habitat dan sumber makanannya telah menurun. Pertimbangan dapat diberikan untuk mengimplementasikan suatu kesepakatan untuk menghentikan pengumpulan beberapa jenis pada terumbu karangyang rusak parah karena pemutihan, sampai tiba waktunya untuk memulihkan terumbukarang. 3. Memberlakukan peraturan yang melarang praktik penangkapan ikan yang merusak (seperti dengan peledak, jaring insang (gill net), pukat cincin (purse seine), sianida dan racun lain) yang dapat merusak terumbu karang. 4. Memonitor komposisi dan ukuran penangkapan untuk mengevaluasi kesuksesan strategi pengelolaan dan mengimplementasikan strategi baru jika diperlukan. 5. Mengembangkan mata pencaharian pilihan bagi komunitas nelayan bila diperlukan. 6. Membatasi masuknya nelayan baru ke daerah penangkapan ikan dengan sistem pemberian ijin. 7. Mengatur pengambilan biota-biota terumbu karang untuk akuarium dan cindera mata. Peraturan yang mengatur kegiatan-kegiatan ini ada di beberapa negara dan harus digalakkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) membantu mengontrol perdagangan internasional dengan memberikan ijin eksport seluruh karang batu dan beberapa kerang (contohnya kima raksasa). Negaranegara peserta CITES pun harus melaksanakan kewajiban mereka.


BAB VIII PARIWISATA DAN PEMUTIHAN KARANG Menyelam dan snorkelling adalah hal yang segera terpikir saat dikaitkan dengan pariwisata yang berhubungan dengan terumbu karang, tetapi daerah terumbu karang juga bermanfaat untuk pariwisata pantai, pelayaran kapal pesiar, yacht, memancing dan olahraga air lainnya. Dengan berubahnya terumbu karang yang mungkin dikarenakan pemutihan, ada kekhawatiran para pihak yang bergantung pada industri pariwisata dan pengelola DPL: • Bagaimana reaksi wisatawan terhadap terumbu karangyang memutih? • Bagaimana industri pariwisata beradaptasi dengan masalah pemutihan? • Bagaimana pariwisata dapat dikelola untuk mengurangi kerusakan lanjutan terhadap terumbu karang yang memutih? Pemutihan tahun 1998 sejauh ini belum berdampak terlalu besar bagi pariwisata (Westmacott et al., 2000a). Tentunya, operator selam melaporkan bahwa wisatawan masih tetapnmenikmati keindahan terumbu karang bahkan saat kejadian puncaknya sekalipun- dan beberapa bahkan mengomentari apa yang dianggap sebagai karang yang “bersih”. Dampak nyata pemutihan terhadap kunjungan wisatawan mungkin tidak terlihat hanya dalam waktu beberapa tahun saja, dan mungkin terlihat pada saat terumbu karang telah terdegradasi parah. Bagaimanapun, pengamatan di Samudera Hindia menduga beberapa kemungkinan dampak yang akan timbul nantinya dari peristiwa tahun 1998 Wisatawan mungkin bereaksi dengan banyak cara terhadap pemutihan dan terumbu karang yang rusak. Jika mereka menyadari pemutihan (dari media, dari mulut ke mulut, atau sumber informasi lain), mereka mungkin memilih untuk tidak mengunjungi daerah yang terpengaruh, hal mana menyebabkan penderitaan industri pariwisata disemua tingkat. Penyelam dan snorkellers yang paling berpengalaman mengetahui perubahan pada terumbu- khususnya perubahan dari warna-warna terang menjadi abu-abu kusam atau kecoklatan. Beberapa akan mengunjungi sekali dan tidak akan pernah datang lagi seperti yang lalu-lalu. Mereka yang awam dengan olahraga ini mungkin tidak menyadari permasalahan tersebut. Orang-orang ini dan yang tidak tertarik pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan terumbu karang, mungkin tetap mengunjungi daerah yang terkena. Kemungkinan lainnya adalah wisatawan tetap mengunjungi daerah tersebut tetapi mereka tidak mengunjungi terumbu karang, sehingga dalam kasus ini industri selam dan snorkelling akan menderita. Tindakan-tindakan pengelolaan 1. Mempertahankan populasi ikan sehat bagi para penyelamdan snorkellers. Ikan yang beraneka ragam dan warna-warni merupakan atraksi utama bagi penyelam dan snorkeller, dan terumbu karang yang terdegradasi akhirnya akan menurunkan jumlah ikan keseluruhan. Metode penyelesaiannya dijelaskan pada bagian “PERIKANAN DAN PEMUTIHAN KARANG”. Sehubungan dengan pariwisata, tindakan-tindakan ini meliputi: • Mengurangi tekanan dari penangkapan ikan di sekeliling daerah penyelaman dan snorkelling. • Mendirikan zona dilarang memancing dimana penyelaman dan snorkelling diperbolehkan. • Mengadakan pemisahan antara zona untuk penyelaman dan snorkelling dengan zona penangkapan ikan guna mengurangi konflik. 2. Melibatkan wisatawan dalam permasalahan pemutihan. Banyak penyelam dan snorkeller ingin terlibat dalam kegiatan pelestarian terumbu karang dan akan menyambut baik kesempatan untuk berpartisipasi pada prakarsa-prakarsa yang berhubungan dengan pemulihan terumbu karang yang memutih. Rencana-rencana pengamatan ikan dan program-program monitoring terumbu karang amatir kian meningkat, contohnya organisasi REEF (Yayasan Pendidikan Lingkungan Terumbu/Reef Environmental Education Foundation) dan CEDAN (Pelestarian, pendidikan, pengetahuan penyelaman dan penelitian laut/Conservation, Education, Diving, Awareness and Marine-research), keduanya berbasis di Amerika, dan organisasi lainnya yang beroperasi dalam skala internasional (seperti Coral Cay Conservation, Frontier, Raleigh, Earthwatch, Reef Check). Contohnya di Taman Laut Bonaire, Kepulauan Netherland Antilles yang mendapat kunjungan tahunan dari REEF dan CEDAN dimana kunjungan-kunjungan tersebut membentuk kesatuan bagian dari program monitoring taman nasional. 3. Diversifikasi industri pariwisata. Dalam rangka memonitor perubahan pada kunjungan wisata ke terumbu karang, survei berkala wajib dilakukan, contohnya, di ruang tunggu keberangkatan bandara saat wisatawan sedang menunggu penerbangan mereka. Beberapa negara telah melaksanakan survei tersebut dengan pelaksananya adalah departemen yang bertanggung jawab untuk pariwisata. Pertanyaanpertanyaan survei dapat dikhususkan pada penyelaman dan snorkelling dan kegiatan lain yang berhubungan langsung dengan terumbu karang atau bahkan kegiatan pariwisata lain yang lebih luas. Monitoring perubahan pasar pariwisata akan mengindikasikan apakah pemasaran kegiatan pariwisata alternatif diperlukan untuk mempertahankan industri. Kegiatan wisata kedaerahan, contohnya, dapat menjadi fokus sementara terumbu-terumbu karang rusak diberi kesempatan memulihkan diri; akan tetapi, perhatian harus diberikan untuk menjamin bahwasanya kegiatan pembangunan pesisir itu sendiri tidak menambah kerusakan pada terumbu karang. Perhatian yang lebih besar harus diberikan pada nilai tata ruang suatu daerah, pantai bersih, air yang jernih untuk olahraga air, dsb. Mencari situs baru atau tempat menyelam alternatif mungkin juga diperlukan (contohnya dengan pemandangan bawah air yang lebih dramatis atau populasi ikan yang besar). 4. Mengurangi dampak kegiatan pariwisata secara umum. Pada terumbu karang yang telah terdegradasi dan memutih, pengelolaan kegiatan pariwisata sekelilingnya amat diperlukan. Dampak-dampak berikut ini, antara lainnya, harus dikurangi atau dihilangkan (lihat juga Ancaman lain bagi terumbu, DPL, Pengelolaan Pesisir dan Perikanan Terpadu): • Kontak langsung dari penyelaman atau snorkelling (karena berjalan atau mengetuk-ketuk terumbu); menyediakan informasi bagi para penyelam dan mendidik mereka tentang bahaya potensial yang dapat mereka timbulkan mungkin berguna untuk daerah terumbu karang sedang dalam proses pemulihan. • Kerusakan fisik dari kapal yang menjangkar (pelayaran penyelaman, nelayan, pesiar, dan lain-lain) dapat dikelola dengan menunjuk zona penjangkaran, menyediakan pilihan, seperti mooring, dan memberlakukan peraturanperaturan lain sehubungan dengan penjangkaran ramah lingkungan. • Kontaminasi dari pembuangan limbah dekat pantai (contohnya limbah dari resort); mungkin lebih tepat bila resort pantai memproses air buangan atau mendaur ulang untuk pemeliharaan taman mereka sehingga nutrisi-nutrisi buangan dapat dipergunakan oleh tanaman. • Sedimentasi dan polusi konstruksi bangunan (contohnya dermaga kecil dan dermaga besar, pelabuhan dan marina); tersedia bimbingan untuk rupa-rupa kegiatan konstruksi dan pelaksanaannya, dan berbagai metode telah dikembangkan untuk mengurangi dampak tersebut. Hal ini dapat ditingkatkan dan diimplementasikan dengan membuatkan syarat-syarat untuk menyetujui perencanaan pengevaluasian dampak lingkungan melalui sistem peraturan dan perijinan dan juga dengan insentif. 5. Mendorong wisatawan untuk menyumbang dana untuk usaha pemulihan dan pengelolaan. Mengelola terumbu karang, yang sehat maupun yang tengah pulih dari kerusakan, membutuhkan sumber pendanaan yang memadai dimana merupakan sesuatu kekurangan dari negara-negara yang terpengaruh paling kritis. Indusri pariwisata yang menggantungkan diri atau memanfaatkan terumbu karang secara ekstensif yang terdapat di banyak daerah, harus menyumbang bagi pengelolaan perlindungan terumbu karang. Penyelam-penyelam perorangan dan wisatawan dapat membantu dengan membayar biaya masuk taman dan dengan menyumbang. Wisatawan seringkali mau menyumbang dalam jumlah cukup kalau mereka yakin uang tersebut akan dipergunakan untuk pelestarian terumbu karang. Profil sosio-ekonomis para pengunjung, juga kualitas terumbu karang dan atraksi-atraksi lain merupakan faktor-faktor penting kala menghitung jumlah yang mau dibayar oleh para wisatawan untuk kegiatan pengelolaan terumbu karang tersebut. Oleh karena itu survei harus dilaksanakan di setiap daerah untuk menentukan faktorfaktor tersebut sebelum biaya penggunaan diberlakukan. 6. Menyebarluaskankan informasi kepada umum melalui pendidikan dan propaganda lainnya. Industri pariwisata dapat memegang peranan penting dalam pendidikan dan kegiatan-propaganda lainnya. Hal-hal ini termasuk: • Brosur-brosur tentang “apa yang boleh dan yang tidak” saat menikmati terumbu karang dan mengenai hubungan antara perubahan iklim dan pemutihan karang, yang dimasukkan dalam paket-paket informasi yang disediakan oleh hotel bagi para tamunya. • Poster-poster informatif dan warna-warni yang dijual di toko-toko wisata setempat atau kantor-kantor taman. • Kursus pelatihan bagi pekerja-pekerja wisata untuk mengajarkan wisatawan tentang biologi dan ancaman bagi terumbu karang.

BAB IX PEMUTIHAN KARANG Terumbu karang, khususnya terumbu karang tepi, seringkali ditemui dekat pesisir dan terletakmungkin hanya beberapa meter dari garis pantai. Pertumbuhan populasi yang cepat dan naiknya permintaan untuk industri, pariwisata, perumahan, pelabuhan dan tanjung menghasilkan perkembangan pesisir yang ekstensif. Seperti telah disebutkan sebelumnya, ini berdampak besar bagi terumbu karang dan sama seperti dampak manusia lainnya, pasti mencegah pemulihan terumbu karang yang memutih. Kesehatan ekosistem yang berdekatan, seperti rumput laut dan bakau, juga berperan penting bagi kesehatan terumbu karang. Berikutnya, mempertahankan nilai estetika pesisir, termasuk pantai dan air yang bersih, dan tata ruang yang tak terganggu, akan menjadi amat penting bila terumbu karang tidak menarik lagi bagi wisatawan. Solusi bagi masalah-masalah tersebut membutuhkan perhatian khusus bagi perencanaan dan peraturan pengembangan pesisir dan pembuangan limbah, dan mungkin lebih baik dialamatkan sebagai pengelolaan pesisir terpadu (Integrated Coastal Management/ICM). ICM mempertimbangkan zona pesisir dan pemisah daerah aliran sungai (watershed) yang berhubungan, dalam suatu unit dan usaha-usaha untuk mengintegrasikan pengelolaan semua sektor terkait (Bijlsma et al., 1993; Post dan Lundin, 1996; Cicin-Sain dan Knecht, 1998). Banyak negara telah melaksanakan untuk pertamakalinya atau mengimplementasikan program-program ICM di tingkat lokal dan/atau nasional. Belize, contohnya, telah menemukan kerangka kerja khusus yang bermanfaat untuk menyelamatkan terumbu karang Di Tanzania (negara lain dimana terumbu karang merupakan sumber penting dan juga telah dipengaruhi oleh pemutihan), kebijaksanaan ICM skala nasional sedang dikembangkan dan situs setempat untuk program khusus ICM sedang diimplementasikan untuk menguji rencana dan mekanisme koordinasi dilapangan (Francis et al., 1997). Negara-negara di bagian barat Samudera Hindia telah menunjukkan komitmen politik khusus untuk mendirikan programprogram ICM melalui sejumlah pertemuan tingkat menteri (Lindén dan Lundin, 1997). Buku ini telah meliput DPL, perikanan dan pariwisata dalam bagian-bagian yang berbeda, kesemuanya adalah elemen-elemen penting penunjang keberhasilan program ICM. Permasalahan lain termasuk: • Polusi bersumber dari daratan. • Konstruksi dan kegiatan-kegiatan lain pada daerah pesisir dan sepanjang pemisah daerah aliran sungai (watershed). • Pertanian, perhutanan dan praktek pemanfaatan tanah di daerah pesisir dan sepanjang pemisah daerah aliran sungai. • Pertambangan lepas pantai dan industri migas. • Kegiatan berkaitan dengan pengangkutan air dan segala bentuk pengapalan. Adalah mustahil membahas disini setiap permasalahan yang harus diperhatikan untuk suatu program ICM yang efektif, tetapi penting untuk dicatat bahwa semuanya diperlukan bagi kesuksesan pengelolaan terumbu karang dan untuk menciptakan kondisi yang dapat memaksimalkan pemulihan ekosistem terumbu karang yang rusak. Tindakan-Tindakan Pengelolaan Kebutuhan utama adalah menyelesaikan pengembangan dan implementasi dari kebijaksanaan dan program-program ICM berskala nasional dan lokal. Kesuksesan ICM membutuhkan kesadaran prinsip-prinsip partisipasi para pihak yang terkait dan peningkatan kerjasama antara para kelompok pengguna; prinsip pencegahan; dan monitoring dan evaluasi dari intervensi pengelolaan untuk memastikan bahwa hal tersebut diadaptasi sebagai reaksi atas perubahan kesehatan ekosistem (ini khususnya penting untuk ekosistem yang rapuh seperti terumbu karang. Bagaimanapu kebijaksanaan dan programprogram ICM membutuhkan perhatian khusus yang lebih besar untuk menciptakan kondisi untuk memulihkan terumbu karang dan pemeliharaan kesehatan bagi terumbu karang yang belum rusak. Oleh karena itu, tindakan-tindakan berikut perlu ditekankan: 1. Menerapkan sistem DPL dalam kerangka kerja ICM, yang perlu diperhatikan adalah pengetahuan tentang inter-koneksi (inter-connectedness), kepekaan dan kemampuan pulih terumbu karang yang berbeda. 2. Mengimplementasikan ukuran-ukuran untuk meningkatkan penangkapan ikan yang dikelola berkelanjutan dan keterpaduan dari semua ini dalam garis besar perkembangan ekonomi daerah pesisir. 3. Pengembangan dan implementasi dari alat perencanaan, garis-garis acuan, peraturan dan ukuran-ukuran insentif.dan mekanisme-mekanisme lain untuk mempromosikan konstruksi ramah lingkungan dan bentuk lain dari pemanfaatan tanah dan pembangunan pesisir. 4. Peraturan bagi polusi bersumber dari daratan. Polusi alam ini harus ditangani secara internasional, regional, nasional dan lokal serta banyak prakarsa sedang direncanakan. Pengelola terumbu karang dan pembuat keputusan dapat membantu mempromosikan teknologi baru dan mendorong metode-metode temuan baru untuknlimbah buangan ramah lingkungan, seperti pemanfaatan lahan basah untuk menyaring keluar limbah kaya nutrisi, dan “kering” atau kompos kotoran. 5. Pengelolaan pengapalan dan pengangkutan lain untuk mengurangi kerusakan pada terumbu karang dan ekosistem yang berasosiasi dengan penjangkaran, pendaratan (grounding), tumpahan minyak dan limbah buangan. Seperti polusi bersumber dari daratan, topik ini tidak dapat tercakup secara lengkap disini, pengelola dan pembuat keputusan dapat merujuk pada sumber informasi yang diberikan diakhir buku ini. Kerangka kerja legal yang baik untuk peraturan pengapalan komersial kini tersedia sebagai hasil dari Organisasi Maritim Internasional. Akan tetapi, tidak semua negara mempunyai peraturan dalam negeri, sumber-sumber ataupun kapasitas untuk mengembangkan dan mengimplementasikan ukuran-ukuran yang diperlukan. Ini termasuk reaksi langsung dan segera; untuk penumpahan minyak, peraturan-peraturan dumping, kondisi fasilitas pelabuhan bagi pembuangan limbah, rencana rute pelayaran dan navigasi yang tepat atau pemilihan daerah-daerah yang peka (seperti terumbu karang) dengan pengaturan khususnya untuk pengapalan. Peraturan kegiatankegiatan dari pengangkutan kecil juga perlu. Pengelola harus meningkatkan pendirian mooring buoys, perkembangan etika kerja dan pelatihan untuk pekerja kapal untuk praktek pengoperasian yang aman dan ramah lingkungan. 6. Perlindungan garis pantai terhadap erosi. Erosi pesisir dapat meningkat jika terumbu karang yang sebelumnya melindungi pantai dari ombak dan badai, dirusak. Erosi beberapa meter dilaporkan terjadi di pantai dibeberapa daerah Seychelles dimana terumbu karangtelah terkena pemutihan Ini dapat mengarahkan kita pada pengenalan jalan keluar teknis yang mahal pelaksanaannya namun tidak selalu dapat mengatasi erosi. Membiarkan daratan beradaptasi terhadap perubahan melalui proses alami (pelaksanaan lembut) mungkin merupakan pendekatan yang lebih baik, sebagaimana juga mempromosikan pemulihan terumbu karang yang rusak (lihat Tindakan Restorasi) untuk menciptakan kembali fungsi dermaga alami mereka.

BAB X TEHNIK-TEHNIK RESTORASI Tehnik-tehnik restorasi dapat dipergunakan untuk membantu dan mempercepat pemulihan terumbu karang yang rusak dengan meningkatkan atau menambah proses alamiah dari kemampuan pemulihan karang. Skala keterlibatan adalah satu hal yang patut dipertimbangkan saat memutuskan untuk merestorasi kondisi terumbu karang terpengaruh dampak pemutihan yang mematikan. Banyak usaha rehabilitasi terbukti tidak efektif atau layak dalam skala besar (km2), baik secara ekonomis maupun ekologis. Tidak masuk akal bila restorasi yang mahal dilakukan pada saat faktor kerusakan tetap terjadi. Selanjutnya, proses pemulihan alamiah mungkin sudah terjadi dan dapat terganggu dengan kegiatan restorasi ini dan malah dapat lebih merugikan dari pada menguntungkan. Penilaian dilakukan secara hati-hati sebelum menentukan apakah intervensi aktif dapat lebih berguna. Dalam banyak kasus, pemulihan alamiah lebih baik daripada “penyembuhan” yang riskan dan mahal. Oleh karena itu, tehnik-tehnik restorasi dan rehabilitasi terumbu karang yang aktif (seperti pada contoh dibawah) telah dicoba didaerah-daerah terlokalisir dan berskala sangat kecil (kurang dari 100 m2). Metode-metode seperti ini hanya akan merubah sebagian kecil dan berdampak minimal umum bagi terumbu karang, bahkan di negara-negara kecil. Bagaimanapun, metode ini dapat berguna bagi daerahdaerah seperti taman karang kecil yang bernilai tinggi bagi kunjungan wisata. Sejumlah pendekatan yang berbeda telah diteliti saat ini: Menghilangkan tekanan-tekanan Ini harus selalu menjadi prioritas utama karena akan mendorong proses pemulihan alami. Metode-metode perbaikan kondisi untuk pertumbuhan karang dengan menghilangkan tekanan yang ada dan berpotensi untuk terjadi yang menghambat penempelan, keselamatan hidup dan pertumbuhan karang-karang telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Peningkatan ketersediaan substrat untuk penempelan larva Walaupun telah mengalami peristiwa pemutihan, karang mati berguna sebagai landasan untuk penempelan larva, ketersediaan substrat yang cocok dapat berkurang karenapertumbuhan alga yang berlebihan. Karena alasan inilah maka polusi yang bersumber dari daratan penyebab penambahan nutrisi harus diminimalkan dan populasi ikan pemakan alga harus dipertahankan. Peningkatan ketersediaan substrat untuk penempelan larva hanya dibutuhkan sekali yaitu pada saat struktur terumbu karang telah terdegradasi. Solusi-solusi untuk peningkatan ketersediaan substrat bervariasi dari yang mudah hingga ke tahap yang sulit dan dari yang murah hingga yang mahal. Banyak diantaranya masih dipelajari: • Banyak peneliti sedang menguji coba praktek dari peletakkan substrat buatan di dasar laut, seperti blok beton reruntuhan) atau strukturlain .Terumbu-terumbu karang buatan seperti ini mungkin dapat memberi keuntungan tambahan yaitu menyediakan tempat berlindung bagi ikan terumbu karang (Whitmarsh, 1997). Perhatian harus diberikan untuk menghindari polusi atau kerusakan lanjutan bagi lingkungan sekitar sebagai hasil dari pemilihan bahanbahan atau rancangan struktur tersebut. Contohnya, besi bekas atau barang sampah lainnya tidak boleh dipakai walau mungkin tampaknya ini merupakan solusi pembuangan sampah yang gampang. (van Treek dan Schumacher, 1998). Biaya pemasangan terumbu karang buatan atau substrat buatan untuk daerah yang luas seharusnya dilarang untuk terumbu karang yang terdegradasi dalam daerah perluasan yang besar. • Pertimbangan diberikan untuk menstabilkan atau memindahkan bahan-bahan substrat mudah lepas (contohnya patahan-patahan karang) dan memindahkan alga (Mc Clanahan et al., 1999) dan organisme-organisme lain yang mungkin menghuni tempat larva atau merusak rekrut-rekrut muda. • Penggunaan elektrolisis untuk menyimpan materi berbahan dasar kalsium diatas permukaan buatan masih dalam tahap eksperimen awal. Arus-arus listrik menyebabkan mineral-mineral kalsium dan magnesium jatuh dari air laut ke bahan konduksi seperti kawat ayam. Kerangka kerja yang dihasilkan terutama terdiri dari kalsium karbonat dan serupa seperti terumbu batu kapur (Hilbertz et al., 1977). Para pelaku aktif sedang menguji hal ini untuk penempelan alamiah bagi larva karang dan untuk transplantasi karang-karang Teknologi ini mungkin dapatdipakai dalam skala kecil untuk menstimulasi pertumbuhan karang pada bagian minor dari terumbu karang tetapi karena biaya pelaksanaannya tinggi maka kurang cocok untuk skala besar. Transplantasi karang-karang dari satu daerah ke daerah yang lain Karang dapat dipindahkan dari sebuah terumbu karang dan ditranplantasikan pada substrat alam pada terumbu yang telah rusak (Lindahl, 1998) atau pada substrat buatan seperti blok beton (Clark dan Edwards, 1995). Namun sepertinya ini adalah metode yang mahal (kecuali tersedia pekerja sukarelawan untuk pekerjaan transplantasi ini) dan seringkali mempunyai tingkat kesuksesan yang rendah, karena karang yang ditransplantasi cenderung lebih rentan terhadap tekanan (lihat Edwards dan Clark, 1999). Sumber untuk transplantasi karang harus dipilih secara hati-hati guna menghindari kerusakan bagi terumbu lainnya. Sumber yang paling baik mungkin terumbu-terumbu karang yang sudah pasti akan terusak parah dimasa mendatang akibat penggerukan pasir, reklamasi pantai, pembuangan cairan limbah atau kegiatan-kegiatan yang tidak tercegah atau bila tak ada jalan keluar. Pembudidayaan Karang Beberapa upaya telah dilakukan untuk membudidayakan karang, terutama di Asia Tenggara (lihat Kotak 9) (Franklin et al., 1998). Lain seperti transplantasi pada karang langsung, untuk budidaya karang maka patahan ditransplantasikan pada lokasi yang terlindung dan tumbuh menjadi ukuran tertentu sebelum dipakai untuk tujuan lain. Pembudidayaan karang yang sukses dapat berguna sebagai sumber karang untuk merehabilitasi terumbu yang rusak dan dapat dipakai sebagai atraksi bawah air bagi snorkeller (Alcock, 1999). Diperlukan penyelidikan lebih lanjut mengenai budidaya karang untuk memotong biaya dan meninggikan tingkat kesuksesan. Penelitian di Australia menunjukkan tingkat kematian dapat ditekan antara 2–5% dan penghilangan biomassa dari koloni karang donor sampai dengan 50% tidak mempengaruhi pertumbuhannya (Alcock, 1999).

BAB XI MONITORING DAN PENELITIAN Monitoring Program monitoring yang dirancang dengan baik adalah perangkat sangat penting untuk mengikuti perubahanperubahan pada terumbu karang yang memutih dan untuk mengawasi kondisi umum dari terumbu yang tidak terkenandampak pemutihan. Monitoring harus dimulai secara sederhana, adaptif dan fleksibel, dan dirancang sesuai dengan tujuan pengelolaan. Organisasi-organisasi setempat, universitas dan LSM dapat melaksanakan beberapa kegiatan monitoring yang terbaik. Kelompok-kelompok ini fleksibel dalam merancang program monitoring mereka sendiri sesuai dengan kapasitasnya masing-masing dan mampu bekerja dengan penduduk setempat, yang merupakan faktor penting penentu kelangsungan jangka panjang dari program monitoring tersebut. Kini tersedia sejumlah programprogrammonitoring terumbu karang regional maupun global disertai dengan panduan, buku pegangan dan pelatihan. Pengelola terumbu karangjuga dapat menilik beberapa program monitoring suhu global seperti yang tengah dijalankan oleh NOAA. Dua program prinsipil tersebut yang memberi perhatian khusus terhadap pemutihan adalah: • Jaringan Monitoring Terumbu Karang Dunia (Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN))GCRMN memfokuskan diri pada monitoring ditingkat pemerintahan (atau profesional). Setelah lengkap, maka jaringan global ini terdiri dari 15 jaringan kerja regional, atau simpulnya, di enam region diseluruh dunia yang independen. Melalui jaringan-jaringan kerja regional ini, GCRMN mempromosikan metode monitoring ilmiah yang dapat diandalkan dan dibantu oleh pelatihan. Contohnya dua simpul telah didirikan di Samudera Hindia- satu di Sri Langka, melayani negara-negara di Asia Tenggara, dan satu di Mauritius, meliputi negaranegara kepulauan di selatan Samudera Hindia. Data yang terkumpul disimpan dalam basis data regional dan dipergunakan dalam laporan-laporan nasional dari status terumbu. Hasil nasional digabungkan menjadi laporan “Status of the Reefs” diterbitkan setiap dua tahun; laporan status pertama dibuat tahun 1998 (Wilkinson, 1998). GCRMN kini sedang mengembangkan pedoman untuk mengevaluasi parameter-parameter sosio-ekonomi yang relevan dengan terumbu karang, yang mana akan sangat berguna di bidang pemutihan karang. • Pengecekan terumbu (Reef Check) Pengecekan terumbu karang adalah suatu protokol untuk mengevaluasi terumbu karang secara cepat dan dirancang khususnya untuk para non-profesional dan sukarelawan. Pertama kali dilaksanakan tahun 1997, kini dilaksanakan tahunan diseluruh dunia dan melibatkan sejumlah besar sukarelawan penyelam SCUBA dan para snorkeller yang antusias di lebih dari 40 negara. Suatu jaringan kerja di koordinir secara regional, nasional dan lokal yang memadukan tim-tim penyelam rekreasi yang berpengalaman dengan ilmuwan kelautan profesional. Para ilmuwan ini bertanggung jawab untuk pelatihan, memimpin survei dan memastikan keakuratan pengoleksian data. Metode pengecekan terumbu karang memanfaatkan organisme-organisme indikator pilihan atas usulan GCRMN. Metodologi ini dapat dipelajari dalam satu hari dan melibatkan sistem kualitas kontrol yang ketat. Oleh karena itu, pengecekan terumbu karang ini mewakili monitoring protokol dari GCRMN yang berbasiskan masyarak'at. Kelebihan an kekurangan buku“Pengelolaan Terumbu Karang Yang Telah Memutih Dan Rusak Kritis” Kelebihan dari buku “Pengelolaan Terumbu Karang Yang Telah Memutih Dan Rusak Kritis” Buku ini untuk menyediakan penjelasan yang akurat dari sebab dan akibat pemutihan karang dan guna mendiskusikan penyelesaian yang tepat. Belajar dari pemutihan karang tahun 1998 di Samudera India, kami mengkaji fenomena ini dalam konteks sumber-sumber lain dari degradasi terumbu karang sebagai panduan bagi para pengelola dan para pihak yang terkait. Buku ini dapat merupakan panduan bagi para pengelola, pembuat keputusan dan semua pihak yang hidup berdekatan dengan keberadaan terumbu karang yang baik dan yang peduli akan menurunnya kondisi terumbu karang karena pemutihan dan serangkaian dampak lain. Di dalam buku inidi muat beberapa ilustrasi yang dapt membantu pembaca untuk memeahami lebih jauh Setiap bab terdapat pertanyaan yang dapat membantu agar dapat memahaminya lebih dalam. Kekurangan dari buku “Pengelolaan Terumbu Karang Yang Telah Memutih Dan Rusak Kritis” Terdapat beberapa kata yang susuah dimengerti seperti: (Hilbertz, 1981; van Treeck dan Schuhmacher, 1998, 1999; Schillak dan Meyer, 1999; Meyer dan Schillak, 2000),(Francis et al., 1997).

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews